Okey, ternyata kuliah itu memang bener2 beda sama sekolah.
Apalagi bagi orang2 yang terpaksa jauh dari keluarganya.
Bukan masalah ilmunya yang sulit atau susah diserap.
Tapi, kuliah itu identik dengan dewasa.
Kalo ngga dewasa, kelaut aja.
Semua mesti serba sendirian.
Mungkin temen akan lebih banyak dipergunakan untuk belajar bareng, atau sekedar makan siang bareng.
Karena faktanya, semua sibuk masing2. Padahal satu kehidupan.
Ya, tapi disini jelas sudah bahwa bertahan itu tidak bisa bergantung pada orang lain lagi.
Orang lain sibuk mikirin diri sendiri.
Bersaing? Iya, tapi memang sehat.
Yang males? udahan aja deh.
Belum lagi masalah dosen yang masuk ga masuk udah kaya ingus aja.
Kerjaannya cuma ngasih tugas yang bikin anak2 galau.
Galaunya HI Unpad bukan lagi hanya cinta2 tapi tugasnya yang ngelangit.
Tapi sayang, dari semua hal yang begitu penting rekan2 saya melupakan satu hal yang paling penting.
Melihat mata kuliah yang judulnya 'horror' itu, ada satu hal yang dilupakan hampir oleh segenap angkatan saya bahkan seluruh angkatan HI.
Mata kuliah kami itu, memang berlabel ilmu pengetahuan. Tapi kalo ideologi dasar kami (baca agama) tidak kuat, maka terombang-ambinglah nanti kami dibuatnya.
Demi Allah, yang janjikan Islam bangkit satu kali lagi.
Saya sadar, ini begitu berbahaya.
Begitu bangga kita membaca mengetahui segala pengetahuan yang diberikan dosen,
semua berbau barat.
Kemudian saya nyaris menangis, mendengar pertanyaan guru saya.
Apakah kamu tahu, siapa khalifah ketiga?
... saya.. bahkan tidak tahu sejarah agama saya sendiri.
Saya hanya tau kulit paling luar! dan saya merasa pintar.
Apakah saudara2 tahu, bahwa Rasulullah itu adalah seorang kepala negara?
Dia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya diluar daripada di masjid.
Dia adalah orang shaleh. Zamannya adalah ketika tidak ada satu orangpun yang pantas untuk diberikan sedekah. Betapa makmurnya..
Tidak ingin tahukah, bagaimana beliau berkiprah dalam pemerintahan?
Pemerintahan islam, yang berdiri tegak selama 1200tahun tanpa pernah ada inflasi?
Kita mencari, apa yang sebenarnya sudah ada dalam pegangan hidup kita, Al-qur'an.
Tidak malukah, menyebut Al-qur'an sebagai pedoman hidup sementara tidak tahu apa yang ada didalamnya?
Konotasi shaleh sekarang berubah, menjadi siapa yang sering berzikir, dll.
Saudara fikir, Rasulullah bisa mengubah warganya menjadi makmur hanya dengan berdzikir?
Saudara tahu, bahwa Siti Aisyah adalah seorang politikus?
Mengapa, mengapa agamaku begitu ditakuti kebangkitannya?
Guru agamaku pernah bilang, saat ini penyerangan bukan lagi melalui fisik, tetapi melalui fikiran.
Tauladan sebenarbenar tauladan, ialah Rasulullah.
Bagaimana kita ingin meneladaninya sementara yang kita tahu hanya beliau lahir tanggal sekian, wafat tanggal sekian, diangkat menjadi Rasul umur sekian?
Sadarlah dan mulailah dari hal terkecil dan dari diri sendiri.
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar